Wednesday, November 26, 2008

Why Indonesia doesn't need Superman

Gonjang ganjing perjalanan politik menciptakan suatu warna yang kurang nyaman dimata setiap orang yang mengaku orang Indonesia. Lelah akan penderitaan yg bertubi tubi membuat kita sering memimpikan seorang superman yang akan membawa negeri ini menuju cita cita kemakmuran yang sering menjadi slogan dimasa sekolah kita.
"Ratu adil", "Satrio piningit" atau apapun istilahnya.

Menyitir sebuah kalimat "Why the world doesn't need Superman", sebuah artikel yang ditulis oleh Loise lane, seorang reporter The Daily Planet dalam kisah terkenal The Superman Return.
Judul yang sangat berkesan bagi saya jika diproyeksikan dalam kehidupan negeri kita, selayaknya kita patut mengatakan we doesn't need Superman.
Why?
Adalah sangat tidak ada manfaatnya untuk terlalu berharap akan munculnya Superman yang akan membawa negeri ini menuju kemakmuran.
Cause we are the real Superman.

1 comments:

tandaseru said...

Gonjang ganjing perjalanan cintaku menciptakan suatu warna yang kurang nyaman dimata hatiku yang mengaku seorang lovers. Lelah akan penderitaan yg bertubi tubi membuat aku sering memimpikan seorang "S" yang akan membawa tubuh ini menuju cita cita kemakmuran yang sering menjadi slogan dimasa sekolah kita.
"Ratu adil", "gadis piningit" atau apapun istilahnya.

Menyitir sebuah kalimat "Why I am doesn't need S", sebuah artikel yang kutip oleh Hari, sohib gue, seorang reporter The Daily Garis dalam blog ini.

"S..." adalah masa laluku yang sudah tutup buku. hehehehe
"S...." is dead!