Tuesday, June 15, 2010

Sepotong Video Yang Menggugat

Euforia perdebatan terjadi diberbagai media lantaran sebuah video adegan pribadi, mulai dari pembahasan tentang asli tidaknya sang artis hingga dampak sosial, moral, ranah hukum dan sederet tema pembicaraan lainnya.
Semakin dibahas kekanan dan kekiri semakin luas area kemunafikannya. Sejumlah pakar hukum mencoba membedah persoalan ini dari sisi dampak hukumnya, sejumlah pakar agama memberikan gambaran yang lebih mengerikan tentang hukuman akhiratnya. Sang artis (diduga) pelaku tidak kalah membantah dan berdalih dengan jurus ngeles yang sejujurnya malah makin mengindikasikan bahwa memang itu adalah video pribadi mereka.
Semua orang tiba tiba menjadi pintar berdalil bahkan terkesan menjadi Tuhan itu sendiri. Pakar hukum yang membidangi hukum manusia tiba-tiba ikut ikutan memasuki ranah hukum Tuhan dengan mengkibar kibarkan bendera moral.
Sebenarnya terlepas dari apakah artis itu mengakui atau tidak tentang perilakunya, aku sangat yakin bahwa sang artis sudah tak bisa lagi menikmati tidur yang pulas, belum lagi itung itungan dikemudian harinya.
Lalu mengapa manusia ini begitu doyan menghakimi dan menelanjangi dosa seseorang padahal semua ikut menikmati dosa itu (paling tidak ikut nonton atau mendownloadnya). Wilayah penegakan norma yang menjadi hak manusia barangkali cuma sebatas dampak merugikan atau tidaknya bagi sesama manusia, sedangkan sisanya adalah wilayah hukum Tuhan yang tak seharusnya kita turut campur. Bila kita bersikukuh (ngeyel) untuk ikut memasuki wilayah itu, bukannya hal itu berarti kita berlagak menjadi Tuhan itu sendiri ? Apakah hal itu berarti "mosi tidak percaya" akan kenerja sang pencipta ?
Terus terang lebih menyakitkan bagiku melihat reaksi orang orang itu ketimbang menonton sepenggal video itu. :)

Wednesday, April 28, 2010

"Sebenarnya aku telah mati ..... "

Tentu saja kalimat tersebut menimbulkan banyak pertanyaan dan kejanggalan. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mati dapat mengucapkan kalimat itu. Begitulah kebanyakan orang selalu menyikapi sebuah presepsi sebagai suatu ukuran kelayakan dan kebenaran. Namun yang sering dilupakan orang adalah ada jutaan presepsi dalam setiap kepala manusia. Aku pun memilki presepsi yang berbeda atas kata "mati". Bagiku karena manusia itu terdiri dari alam batin dan alam jasad, maka aku menganggap bahwa mati pun ada dua macam yaitu mati secara jasad dan mati secara batin.
Kebutuhan paling mendasar dari jasad untuk bertahan hidup adalah makanan, jika hal ini tidak terpenuhi maka jasad akan mati. Lalu apa yang menjadi kebutuhan paling mendasar dari batin agar batin tetap hidup?
Jawabnya adalah "keberartian"..... setiap batin manusia memerlukan rasa keberartian yang bisa digambarkan dalam sikap dibutuhkan dan dihargai, jika seorang manusia merasa tidak lagi dibutuhkan dan dihargai maka ia akan merasa tidak lagi berarti dan itu artinya "mati".

Tuesday, March 16, 2010

Save The God

Suatu hari di sebuah are publik kulihat beberapa orang berjajar dengan membawa berbagai poster.
Tulisan - tulisan semrawut nampak mengekspresikan apa yang menjadi uneg uneg mereka, dan mau tak mau mataku ikut membacanya. Mataku tak sengaja membaca sebuah tulisan yang akhirnya justru menjadi ganjalan di kepalaku. "SAVE THE GOD !!"
Pada umumnya aku melihat kata kata "selamatkan hak kami !!" atau maksud maksud lain yang sejenis dengan itu, namun kali ini kalimat itu membuatku merenung. Benarkah dijaman seperti ini semuanya nyaris punah dan tergilas, hingga Tuhan pun sampai perlu diselamatkan?
Sebentar aku merenung dan sebentar kemudian aku tersenyum kecut, mungkinkah kalimat ini yang dimaksud? "selamatkan Tuhan yang nyaris punah dari hati setiap orang yang mengaku berTuhan ......"
(Kisah ini bukan cerita sebenarnya, ini hanyalah perjalanan imajiner seorang Hiro Nakamura yang menembus ruang dan waktu jauh ke masa depan, yang bisa saja bakalan tidak terjadi ... )